“Doa Tanpa Ikhtiar Seperti Sayap Patah”: Pesan TGB untuk Para Santri.
“Doa Tanpa Ikhtiar Seperti Sayap Patah”: Pesan TGB untuk Para Santri.
Suasana khidmat menyelimuti GOR Yayasan Pendidikan Hamzanwadi Pancor pada Ahad, 1 Februari 2026. Ribuan peserta didik dari sekolah dan madrasah se-Pulau Lombok memadati arena untuk mengikuti pengijazahan doa ujian, sebuah ikhtiar spiritual yang telah lama menjadi tradisi dalam menyongsong masa-masa penting pendidikan.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi momentum pembacaan doa, tetapi juga ruang penguatan nilai dan karakter. Dalam tausiyahnya, Tuan Guru Bajang (TGB), Dr. TGKH. M. Zainul Majdi, MA, menyampaikan bahwa ijazah doa ujian merupakan bentuk kecintaan dan kepedulian Maulana Syeikh kepada murid-muridnya. Doa, menurut beliau, adalah pengikat batin antara guru dan murid agar proses belajar dijalani dengan ketenangan, kesungguhan, dan harapan yang lurus kepada Allah SWT.
Di hadapan para pelajar, TGB mengajak untuk memaknai ujian secara lebih dewasa. Ujian, tegasnya, bukanlah sesuatu yang harus ditakuti hingga membuat hati gelisah, melainkan sebuah proses yang perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Persiapan yang matang—baik secara akademik maupun mental—akan menumbuhkan rasa percaya diri dan ketenangan dalam menjalaninya.
Lebih jauh, TGB menekankan bahwa keberhasilan sejati dalam ujian tidak semata-mata diukur dari peringkat atau nilai tertinggi. Yang jauh lebih mahal, bahkan dalam ujian kehidupan, adalah kelulusan yang melahirkan karakter. Kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, dan akhlak mulia merupakan hasil pendidikan yang nilainya melampaui angka-angka di atas kertas.
Pada bagian penting lainnya, TGB mengingatkan bahwa doa ujian harus selalu dibarengi dengan ikhtiar dan ketekunan dalam belajar. Doa tanpa usaha, beliau mengibaratkan, seperti burung yang sayapnya patah sebelah—tidak akan mampu terbang menuju tujuan. Ikhtiar adalah kewajiban bagi seluruh makhluk, bahkan bagi para nabi.
Sebagai penguat pesan tersebut, TGB mengisahkan keteladanan Sayyidah Maryam, ibunda Nabi Isa AS. Dalam kondisi hamil besar dan kelelahan saat hendak melahirkan, Allah SWT tetap memerintahkan beliau untuk menggoyangkan pohon kurma agar buahnya jatuh dan dapat dimakan. Kisah ini mengajarkan bahwa pertolongan Allah hadir setelah adanya usaha, sekecil apa pun ikhtiar itu dilakukan.
Melalui pengijazahan doa ujian ini, para pelajar diharapkan melangkah menuju ujian dengan hati yang tenang, semangat belajar yang kuat, serta tekad untuk tidak hanya lulus secara akademik, tetapi juga tumbuh sebagai pribadi berkarakter dan berakhlak mulia.