Selamat Datang di Yayasan Pendidikan Hamzanwadi

WhatsApp Icon 1




Ketika Syair Menjadi Api Perjuangan: Membaca Kembali Fityanul Ulum dan Anti Ya Pancor
08 Jul 2026
Ketika Syair Menjadi Api Perjuangan: Membaca Kembali Fityanul Ulum dan Anti Ya Pancor



Ketika Syair Menjadi Api Perjuangan: Membaca Kembali Fityanul Ulum dan Anti Ya Pancor

Oleh: Dukha Yunitasari


Ada kalanya sebuah bangsa tidak dibangunkan oleh pidato yang panjang, tetapi oleh bait-bait syair yang sederhana. Ada saat ketika sebuah peradaban tidak dimulai dari gedung-gedung megah, melainkan dari suara para santri yang melantunkan lagu penuh makna di ruang-ruang kelas yang bersahaja. Demikianlah warisan yang ditinggalkan Al-Maghfurulah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid.

Beliau tidak hanya mendirikan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) sebagai madrasah bagi kaum laki-laki dan Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) sebagai madrasah bagi kaum perempuan. Beliau juga membangun jiwa para muridnya. Salah satu caranya adalah melalui syair. Syair yang tidak sekadar enak didengar, tetapi mampu menghidupkan semangat, membentuk karakter, dan menanamkan cita-cita.

Di antara syair yang paling membekas adalah Fityanul Ulum dan Anti Ya Pancor. Keduanya bukan hanya lagu perjuangan. Keduanya adalah manifesto pendidikan Maulana Syaikh.

نحن فتيان العلوم …

"Nahnu Fityanul Ulum..."

Kami adalah pemuda-pemuda ilmu.

Kalimat pembuka itu terdengar sederhana. Namun, sesungguhnya di sanalah Maulana Syaikh sedang mendefinisikan siapa sejatinya seorang pelajar. Bukan pemuda yang berbangga dengan kekuatan fisiknya, bukan pula yang mengejar kemewahan dunia, melainkan pemuda yang menjadikan ilmu sebagai identitas hidupnya.

Lalu hadir bait berikutnya.

كل يوم لا ننوم…

"Kulla yaumin la nanum..."

Setiap hari kami tidak tidur.

Tentu Maulana Syaikh tidak sedang mengajarkan manusia untuk meninggalkan istirahat. Yang beliau bangun adalah mentalitas. Bahwa cita-cita besar tidak pernah lahir dari kemalasan. Bahwa ilmu selalu meminta pengorbanan. Ada malam-malam yang harus dikorbankan untuk membaca. Ada rasa lelah yang harus dikalahkan demi memahami. Ada air mata yang harus jatuh sebelum seseorang mampu menerangi kehidupan orang lain.

Kemudian syair itu mengangkat pandangan setinggi langit.

أمالنا فوق النجوم…

"Amaluna fauqan nujum..."

Harapan kami berada di atas bintang-bintang.

Betapa indah cara Maulana Syaikh mendidik generasi muda. Beliau tidak pernah mengajarkan murid-muridnya untuk bercita-cita rendah. Pendidikan harus melahirkan manusia yang berani bermimpi besar, sebab orang yang bercita-cita tinggi akan terus bergerak, belajar, dan memperbaiki dirinya.

Namun cita-cita itu tidak berhenti untuk kepentingan pribadi.

جهادنا للمسلمين…

"Jihaduna lil muslimin..."

Perjuangan kami adalah untuk umat Islam.

Inilah puncak pesan Fityanul Ulum. Ilmu bukan alat untuk meninggikan diri, bukan jalan mencari kehormatan pribadi semata. Ilmu adalah amanah yang harus kembali kepada masyarakat. Seorang alim yang sesungguhnya bukan diukur dari banyaknya kitab yang dibaca, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dirasakan umat melalui ilmunya.

Pesan yang sama mengalir dalam syair Anti Ya Pancor, tetapi dengan nada yang lebih lembut sekaligus menggetarkan.

يا بني وطني جدوا…

"Ya bani wathani ijiddu..."

Wahai anak-anak negeriku, bersungguh-sungguhlah.

Kalimat ini terasa seperti nasihat seorang ayah kepada anak-anaknya. Tidak ada kemarahan. Tidak ada caci maki. Yang ada hanyalah harapan agar generasi penerus tidak menyia-nyiakan waktu.

Lalu Maulana Syaikh mengajak mereka berjaga sepanjang malam.

واسحروا طول الليال…

"Washaru thulal layali..."

Begadanglah sepanjang malam.

Bukan untuk kesia-siaan. Bukan untuk hiburan yang melalaikan. Tetapi untuk menuntut ilmu, bermuhasabah, memperbaiki diri, dan mempersiapkan masa depan.

Pada bait berikutnya, syair itu berubah menjadi sebuah ikrar yang begitu menyentuh.

وطني روحي فداء…

"Wathani ruhi fida'un..."

Tanah airku, jiwaku adalah pengorbanan untukmu.

Betapa besar cinta yang terkandung dalam kalimat itu. Cinta kepada kampung halaman, kepada agama, kepada masyarakat, dan kepada tanah air. Pancor bagi Maulana Syaikh bukan sekadar sebuah desa. Dari tempat sederhana itulah beliau memulai revolusi pendidikan. Dari sana lahir NWDI dan NBDI yang kemudian menjangkau ribuan madrasah, sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi di berbagai daerah.

Yang paling mengagumkan adalah cara beliau berjuang. Ketika menghadapi penolakan, beliau tidak memilih kebencian. Ketika dicemooh, beliau tidak membalas dengan permusuhan. Beliau memilih mendidik. Beliau memilih menulis. Beliau memilih bersyair. Sebab beliau yakin bahwa peradaban dibangun dengan pena, bukan dengan amarah.

Hari ini, ketika dunia dipenuhi hiruk-pikuk media sosial, ketika banyak anak muda lebih akrab dengan hiburan daripada bacaan, ketika semangat belajar mulai dikalahkan oleh budaya instan, syair-syair Maulana Syaikh terasa semakin relevan.

Fityanul Ulum mengingatkan bahwa identitas seorang pemuda adalah ilmu. Anti Ya Pancor mengingatkan bahwa ilmu harus melahirkan cinta kepada tanah kelahiran dan pengabdian kepada masyarakat.

Mungkin inilah sebabnya syair-syair tersebut tetap hidup puluhan tahun setelah pertama kali dilantunkan. Ia tidak sekadar diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi terus membangunkan hati yang mulai lalai, menyemangati langkah yang mulai lelah, dan mengingatkan bahwa kemajuan sebuah bangsa selalu bermula dari ruang-ruang pendidikan.

Jika hari ini kita masih menyanyikan syair-syair karya Maulana Syaikh, jangan biarkan ia hanya menjadi lagu pembuka sebuah acara. Biarkan setiap baitnya menjelma menjadi janji. Janji untuk terus belajar, berjuang tanpa lelah, bercita-cita setinggi langit, dan mengabdikan ilmu demi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Sebab, sebagaimana diajarkan Maulana Syaikh, sebuah madrasah tidak hanya melahirkan orang-orang pandai. Ia melahirkan manusia yang hidupnya dipersembahkan untuk memberi manfaat bagi sesama.